" Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku " ( Muttafaqun 'alaih ). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja ' (harap) pada-Nya. Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi 'Iyadh berkata, "Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan.
Prasangka manusia terhadap Tuhanya, menunjukkan sejauh mana kwalitas iman dan keyakinannya. Dalam Al-Qur'an telah dikisahkan Nabi Ibrahim ketika ia berkata kepada Bapaknya (Adzar) dan kaumnya dia bertanya "apakah yang kamu sembah?. Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan bohong? .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.
Aku sesuai prasangka hambaku. Ya, kalimat tersebut adalah salah satu potongan terjemahan sebuah hadits Qudsi yang sering dikutip para penceramah itu. Kata "Aku" dalam kalimat tersebut tentu saja maksudnya Allah.
Itulah pengakuan yang terucap lewat lisan saat membaca surah al-Fatihah, "Alhamdulillah Rabbil alamin.". Dalam hadis qudsi Allah berfirman, "Aku bersama prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, itulah yang ia dapatkan. Namun, jika ia berprasangka buruk, itu pula yang ia dapatkan" (hadis hasan dalam kitab al-Jami ash
'alaihi wasallam bersabda: "Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku. Firman Allah Ta'ala: {mereka hendak merubah janji Allah}. Shahih Al-Bukhari Kitab Tauhid "Allah berfirman: 'Aku selalu tergantung prasangka hamba-Ku
OFWtpr.